Sunday, March 1, 2009

MOZAIK SPECIAL EDITION


Bagi teman-teman yang mau mendownload MOZAIK SPECIAL EDITION bisa mengunjungi link berikut ini : http://www.spotbit.com/main/magazine.php?lang=en&prod=5855

Met Membaca MOZAIK SPECIAL EDITION!

Tim MOZAIK

Tuesday, October 28, 2008

EDISI SEPTEMBER-OKTOBER 2008

Moz Fin Sep08 - Upload a Document to Scribd

Monday, October 27, 2008

EDISI JULI-AGUSTUS 2008

moz final - Upload a Document to Scribd

Edisi FEBRUARI-MARET 2008

MOZAIK hadir dalam versi digital juga donk...
Ini linknya : http://www.scribd.com/doc/4013586/fit-moz


fit moz - Upload a Document to Scribd

Thursday, July 12, 2007

EDISI JUNI 2007

Reportase Pulpen Asma Nadia

Menulis Cerpen yang Menembus Batas

Hayunda

Setelah nekat menerobos hujan dan banjir (curhat nih), sampailah saya di gedung GIP (Gema Insani Press) Depok. Di ruang rapat lantai 2, saya akhirnya bertemu para FLP-ers Depok yang sedang menyiapkan ruangan. Waktu menunjukkan pukul 09.11. Baru sebentar saya mengobrol sana-sini dengan teman-teman FLP Depok, datang seorang wanita cantik dengan jilbab bermotif bunga-bunga cerah. Kontras dengan cuaca yang gelap mendung, ia tersenyum ramah dan hangat. Perlu dua kali memandang untuk memastikan bahwa ia adalah Mba Asma Nadia. Seperti mimpi, bisa sedekat ini dengan Mba Asma yang karyanya sering best seller dan mendapat penghargaan ini itu.

Inilah awal dari acara Pulpen (Pelatihan Menulis Cerpen) bersama Asma Nadia pada Ahad, 4 Februari 2007. Acara ini hasil kerjasama Depdiknas dan FLP yang diselenggarakan di Depok, Pekalongan, dan Aceh. Untuk acara di Depok, hanya 25 peserta yang terpilih melalui seleksi cerpen dapat mengikuti acara ini. Asyiknya, peserta tidak perlu membayar biaya apapun, tetapi mendapat ilmu yang pasti berguna, bertemu dengan Mba Asma, mendapat makan siang+snack, dan mendapat souvenir berupa buku.

Kami duduk melingkari meja panjang. Setidaknya ada 20 peserta yang hadir dan sebagian besar berasal dari Depok. Maklumlah, mengingat Jabodetabek masih kebanjiran. Selain dari Depok, terdapat peserta dari FLP Ciputat dan komunitas milis pembaca Asma Nadia. Saya dan Mba Fitta datang mewakili FLP Bekasi.

Acara dibuka pada pukul 09.30 oleh Mas Koko Nata, ketua FLP Depok. “Bulan depan akan dipenuhi lomba-lomba penulisan, jadi menulislah sejak saat ini,” pesannya. Selanjutnya, Mba Asma mempersilahkan masing-masing peserta memperkenalkan diri dan menyebutkan alasan menjadi penulis serta kelebihan-kekurangan hasil tulisan yang telah dibuat. Sebagian besar peserta kebingungan menjawabnya. Bahkan, ada yang menyatakan tulisannya tidak punya kelebihan. Bagaimana denganmu?

Mba Asma memulai pelatihan dengan menanyakan satu hal, menurutmu apakah menulis membutuhkan bakat? Tentu saja, tidak. Menulis memang membutuhkan keberuntungan, tetapi hanya 5% dan harus dipersiapkan sebelumnya. Jika kita telah mempersiapkan diri dan naskah kita, keberuntungan di depan mata tidak akan pergi kemana-mana. Jadi, apa yang dibutuhkan oleh penulis? Yang utama ialah keterampilan. Hakikat keterampilan, yaitu semua orang pasti dapat melakukannya, tetapi butuh pelatihan dan keinginan kuat untuk menulis.

Menjadi penulis memiliki banyak keuntungan, misalnya hampir tidak ada diskriminasi terhadap latar belakang, pendidikan, atau tampilan fisik penulis. Selain itu, menulis tidak membutuhkan banyak modal. Yang dibutuhkan adalah kegigihan yang luar biasa. Mba Asma sempat bercerita mengenai orang tua dan alasannya menjadi penulis. Cerita tentang keluarga Mba Asma yang kurang mampu, tetapi tetap rajin membeli buku. Kata Mba Asma, “Jarang sekali ada peserta pelatihan yang bertanya bagaimana cara memiliki motivasi menulis yang kuat, padahal itulah inti dari proses menulis. Yaitu, memiliki WHY yang kuat, alasan yang membawa kita untuk terus menulis.”

Membaca adalah sekolah bagi penulis, penulis lain adalah gurunya. Dengan membaca karya orang lain, kita dapat mempelajari cara penulis menggerakkan tokoh, menggarap setting, mengalirkan cerita, membuat opening­-ending, dan seterusnya. Karena itu, penulis harus rajin membaca. Jika dipikirkan, berapa banyak guru kita jika selalu menyempatkan diri untuk membaca dan menganalisa tulisan yang kita baca.

Setelah membahas persiapan menulis, Mba Asma mulai memberi tips untuk menulis cerpen. Hal yang perlu diperhatikan ialah terdapat SATU ide yang digarap dengan baik. Penulis harus terfokus dalam satu ide tersebut dan tidak memiliki hak untuk ngelantur. Selain ide harus memiliki selling point yang tinggi, penggarapan ide juga harus menarik. Carilah bentuk penceritaan yang terbaik dari ide tersebut. Buat beberapa alternatif, lalu seleksilah.

Setelah menulis, baca ulang dan perbaiki cerpenmu. Tiap penulis pasti memiliki kesalahan yang khas. Maka, kenali dan perbaikilah. Mba Asma mencontohkan kesalahan yang terdapat dalam salah satu cerpen milik peserta, yaitu terlalu banyak menggunakan akhiran ‘-nya’. Juga cek sistematika cerpen dan tata bahasanya. Lebih baik jika mencari pendapat pembaca lain, tanyakan apakah pembaca mendapat feel dari cerpen itu. Kemudian, carilah jalur cerpen yang paling pas dan sesuai dengan dirinya. Misalnya, jika gaya bahasa kita meremaja, buatlah cerpen remaja.

Tips-tips Menulis dari mbak Asma juga dikasih tahu loh tapi baca MOZAIK aja. Biar bikin penasaran! Oke!

CERPEN

Hujan, Melarikan Diri, dan Setelah Itu...

Hayunda

Seorang wanita muda berlari tergesa-gesa menabrak perisai titik-titik hujan yang makin tebal, seperti memiliki kekuatan yang asalnya entah darimana. Terus berlari sambil mendekap sesuatu dengan erat, harta satu-satunya yang dibawa. Ketika sebarisan obor redup dalam hujan dibawa orang-orang yang berteriak memanggil “Sindoro”, ia telah jauh.

Sepi, malam 22 Maret 1970.
Waktu masih berlari ke penghabisan, nama “Sindoro” telah lama terlupakan, atau memang sengaja dilupakan untuk menghilangkan kisah dendam lama yang tidak jelas kapan terselesaikan.
“Dunia ini tidak aman”, katanya suatu kali padaku saat mencegah aku pergi malam itu.
Tentu saja aku menganggapnya angin lalu yang hanya diucapkan tanpa alasan, hanya karena dia takut terhadap manusia, lalu aku anaknya juga harus selalu bersembunyi.
Sering aku menemukan dia menatap langit dari jendela yang berjeruji di kamarnya dengan kosong, seakan ingin terbang menggapai mimpi yang tergantung langit tapi tak pernah bisa karena sayapnya telah patah. Pandangan yang sama ketika melihat wajahku. Tapi ia tak pernah berkata apapun tentang itu ataupun menangis.
Sesekali dia keluar untuk ke pabrik kainnya untuk mengecek para pekerja. Semua orang menundukkan badan padanya, entah karena hormat terhadap kebaikan-kebaikan yang telah diperbuatnya untuk memajukan desa kumuh yang sekarang sudah beradab, atau sekadar formalitas belaka. Tentu saja aku dibawa serta berjalan di belakangnya seperti bayangan.

.................Mau tahu kelanjutannya? Bca aja selengkapnya di MOZAIK terbaru Juni 2007





Monday, March 26, 2007

Edisi Februari-Maret


KOKI (Tokoh Kita) :

Gola Gong :A Man Behind Rumah Dunia

Keliling dunia. Itulah cita-cita Gola Gong, penulis Balada si Roy sekaligus penggagas Rumah Dunia. Sosoknya yang sederhana namun bersahaja tidak menunjukkan kalau ia seorang penulis besar. Cita-cita, mimpi dan perjalanan hidupnya, ia tuangkan pada buku berjudul “Menggenggam Dunia Bukuku Hatiku.” Bisa dibilang buku itu adalah sebuah memoar seorang Gola Gong.

Sang petualang

Terlahir dengan nama Heri Hendrayana, Sejak kecil Gola Gong suka berpetualang. Kegemarannya membaca dan menonton tivi membuat daya khayalnya melebihi anak seusianya. Saking imajinatifnya, Gola Gong kecil sering mengalami kecelakaan. Salah satunya ketika ia berusia 8 tahun. Terinspirasi film “Tarzan” yang dibintangi Johny Weissmuller, ia pun berlagak menjadi Tarzan. Gola Gong bergelayutan di pohon sambil menancapkan belati di pohon pisang. Saat itu ia merasa sedang bergulat dengan buaya. “Kreativitas” itu berakhir setelah pisau belati menancap di keningnya. Di lain waktu ia berdiri di tengah jalan dan menyetop mobil opelet yang sedang meluncur. Ketika itu ia berKhayal bagai Superman yang mampu menahan laju kendaraan. Tak ayal ia menjadi pelanggan di RSUD Serang.
Lalu…………

Selanjutnya baca lengkapnya di MOZAIK Edisi Februari-Maret. Belum punya? Gabung aja di FLP Bekasi! Oke!!


Puisi :

Hari Jadi Mendung oleh Fit ‘d Art

Adinda Istri Shalehah oleh Ali

Cerpen:

Salahkah Ia Punya Cinta…
oleh: Varsya

…………

Hari Sabtu ada seminar di kampusku , Di Masjid Baiturahim Universitas Bekasi. Tema Seminar itu adalah “ Virus Merah Jambu” yang diadakan oleh smile ukwah. Aku datang lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan panitia. Acara dimulai pada pukul delapan pagi. Tapi panitia masih sibuk mengurus media yang digunakan untuk presentasi seminar. Aku mulai mencari tempat duduk paling depan agar materi yang disampaikan dapat didengar lebih jelas. Di pojok masjid , Aku melihat ada seorang akhwat yang sudah datang duluan. Ia menunduk sambil membaca buku. Aku seperti nya mengenal ia .Ah… bukan Tari. Sahutku dalam hati. Aku jadi ragu menyapanya takut salah orang. Aku sudah seminggu tidak melihat Tari. Aku sudah rindu dengan sahabatku itu.
Seminar sudah dimulai, pembicaranya sudah datang. Pembicara tersebut ternyata yang menulis buku “ Virus Merah Jambu” . Ustad Muhamad Ahzam Sidik.
Menurut beliau , akhir-akhir ini banyak para ikhwah yang terlibat dengan virus merah jambu atau dikenal juga dengan “HTS” (hubungan tanpa status). Mereka tidak mau di bilang pacaran , karena mereka tahu bahwa pacaran itu dilarang dalam syari’at Islam, VBJ (virus merah jambu ) sering merusak dakwah. Beliau mengatakan bahwa para ikhwah harus selalu kembali kepada tuntunan Rasululluah Saw. Kalau memang sudah sanggup untuk menikah ya.. silahkan dilakukan dari pada merusak iman dan menimbulkan penyakit hati kita kepada Allah. Begitulah penjelasan dari ustad Muh. Ahzan Sidik. Seminar sudah selesai dan waktu zuhur menjelang. Aku ikut berjamaah sekalian di mesjid kampus. Aku terus memandangi sosok yang ada dipojok itu. Ia juga ikutan sholat . Selesai sholat aku bersalaman dengan peserta lainnya. Aku berniat pulang dan mengambil sandal. Tiba-tiba ada yang menabrakku dari belakang. Sandal ku terlempar ke depan. Aku buru- buru mengambilnya. Saat aku menoleh kepada sosok tubuh yang menabrakku. Ia langsung minta maaf.
............
Mau tahu kelanjutannya? Sekali lagi baca lengkapnya di MOZAIK Edisi Februari-Maret. Belum punya juga? Capek deh! Sok atuh Gabung aja di FLP Bekasi! Nggak nyesel deh!


Tips :
Agar Tulisan Kita Bisa Mejeng di Media Cetak


Resensi Buku :
Perfume “The Story of a Murderer” by Patrick Suskind